Masjid ajaib Turen

Masjid ini merupakan bangunan Pondok Pesantren Syalafiyah Bihaaru Bahri’Asali Fadlaairil Rahmat yang didirikan pada tahun 1963 oleh KH Ahmad Bahru Mafdlaluddin Sholeh Al Mahbub Rahmat Alam yang biasa disapa dengan nama Romo Kiai Ahmad.

Romo Kiai Ahmad mempunyai maksud mulia mendirikan pondok pesantren ini, yaitu untuk dikunjungi oleh semua orang, baik yang muslim maupun yang non-muslim. Jadi siapa pun boleh masuk ke pondok pesantren ini walau bukan umat islam sekalipun.
Pembangunan pondoknya sendiri hanya menggunakan material apa adanya dan minim budget. Contohnya, waktu itu hanya digunakan baru batu merah saja maka batu merah itulah yang dipasang dengan luluh (adonan) dari tanah liat (lumpur/ledok). Pembangunan masjid ini mulai dari bawah tanah, tepatnya di lantai tiga, ada tiang penyangga dari seluruh bangunan yang terbuat dari tanah liat. Satu tiang yang dibuat tanah liat itu yang menjadi roh atau kekuatan dari seluruh bangunan.
Nah selama proses pembangunan terus berlangsung, pada tahun 1978 mulai ada santri yang datang dan menetap di sana. Semakin banyak santri yang datang, pembangunan dan perluasan pondok pun dilakukan seadanya sampai tahun 1992. Selama beberapa tahun pembangunan sempat terhenti, namun sekitar tahun 1999 pembangunan masjid kembali bergairah. Pengerjaannya mengandalkan tenaga-tenaga para santri yang ada dengan dibantu oleh masyarakat.
Arsitektur dan Fasilitas Masjid
Bangunan ini berarsitektur ala Timur Tengah dengan hiasan-hiasan kaligrafi arab di tembok-temboknya dan setiap sudut bangunan. Bahkan di samping pos keamanan yang berwarna orange tepat berada di pintu masuk, di beberapa bagiannya ada tulisan kaligrafinya.
Ornamen kaligrafi-kaligrafi yang menghiasi  masjid ini sebagian besarnya dikerjakan sendiri oleh para santri dengan penuh kesabaran, ketelitian dan keihklasan. Hal ini penting dibutuhkan untuk menghasilkan karya kaligrafi yang indah, selain sebagai sarana untuk menambah keterampilan tambahan bagi para santri ponpes.
Pondok Pesantren dan masjid mencapai 10 lantai, untuk yang tingkat satu sampai tingkat empat digunakan sebagai tempat para santri pondokan, lantai enam digunakan sebagai ruang keluarga, lantai tujuh, lima dan delapan terdapat toko-toko kecil yang  bermacam-macam makanan ringan dan pakaian dan dikelola oleh para santri wanit. Dari satu lantai ke lantai yang lainnya fasilitas tangga telah disediakan , begitu pula dengan lift pun walau belum berfungsi sepenuhnya.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s